Hai, sudah berapa purnama, aku tidak singgah disini... Aku kembali, kembali untuk menulis luka yang terjadi lagi. Tapi kali ini, aku tanggung jawab dalam patah hati....
Selain urusan perut dan keuangan, urusan perasaan juga tidak bisa dipungkiri kompleksitasnya. Jika kita berbicara tentang Cinta, tentu saja itu tak akan ada habisnya. Karena cinta merupakan perasaan yang dapat dimiliki dan dirasakan siapa saja. Akan sangat indah jika cinta datang dan berjalan sesuai dengan harapan kita, namun apa jadinya jika cinta datang hanya untuk membangun luka ?
“ if you fall in love, you’ll fool in love”
Indahnya jatuh cinta akan disertai kebutaan logika, tidak sedikit dari kita, ketika jatuh cinta, kita seolah- olah sangat mengenal pasangan kita, hingga kita selalu mengelak ketika diberitahu fakta negatif tentang pasangan kita. Menutup pandangan kita akan realitas kehidupan bahwa cinta, tak selamanya berakhir indah. ya cinta akan sangat berbahaya, jika kita tidak mampu untuk mengendalikannya.
“Terkadang Hati manusia perlu Ditusuk, agar Cahaya dapat Masuk”
Rasa kecewa akan cinta, tidak bisa kita hindari keberadaanya. Kalau ketika jatuh cinta kita bisa menikmati perasaan bahagia bersama pasangan kita, namun kalau patah hati itu datang, hanya ada diri kita sendiri yang akan menghadapinya. Perasaan sedih yang tak karuan, rindu yang berkepanjangan, serta terulangnya banyak kenangan indah di pikiran. Membuat kita tersiksa akan kepergian cinta dalam hidup kita.
Tapi apakah pantas, ketika kita gagal dalam percintaan, maka kita menyalahkan keadaan? Menyalahkan orang yang telah menaruh luka kepada kita?
Dalam prinsip filosofi teras yaitu “ hidup selaras dengan alam” yang artinya semua peristiwa di dalam hidup adalah bagian keterikatan dan sebab akibat dari semesta yang lebih besar. Ada sebagian hal dalam hidup yang berada di bawah kendali kita, dan ada yang tidak di bawah kendali kita. sumber emosi negatif bukanlah karena peristiwa - peristiwa yang terjadi dalam hidup kita, melainkan karena presepsi/ anggapan/pendapat kita terhadap peristiwa tersebut.
Jika cinta tidak lagi bisa membawa kita kepada kebahagiaan, lantas untuk apa ia dipertahankan? Menunggu adanya perubahan tidak akan terjadi, jika hanya salah satu peran yang mencari jalan. Putus cinta memang menyakitkan. Namun bukan berarti hadirnya adalah sebuah kesalahan. Dari pada menyalahkan keadaan dan beranggapan bahwa kitalah yang paling tersakiti. Lebih baik kita lapang dada dengan apa yang telah terjadi.
Jadi, patah hati merupakan tanggung jawab kita sendiri dalam menanggulanginya. Memang dalam melewatinya akan banyak derai air mata, rasa tidak terima, dan rasa bersalah yang menyelimuti diri sendiri. Tapi bukan berarti kita berhak untuk membenci orang yang pernah kita sayangi. Cukupkan patah hatimu dengan menerima keadaan. Menjadikan kisahmu sebagai pelajaran dan pengalaman , untuk bisa membangun cinta yang lebih baik lagi di masa yang akan datang.

Komentar
Posting Komentar